Skip to main content

Hukum Melafalkan Niat Dalam Ibadah

Hukum Melafalkan Niat merupakan salah satu persoalan yang paling sering menjadi perdebatan di tangah umat Islam. Hal ini tentunya melahirkan pertanyaan Bagaimana hukum melafalkan niat dalam ibadah?

Hukum Melafalkan Niat Dalam IbadahMeskipun seluruh ulama sepakat bahwa tempat niat ada di dalam hati tetapi mereka berbeda pendapat tentang hukum melafadzkan niat, apakah hukumnya sunnah, makruh atau sekedar boleh.

Sunnah

Mazhab Asy-Syafi'iyah dan Al-Hanabilah memandang bahwa melafadzkan niat itu hukumnya sunnah, agar lisan sesuai dengan hati.

Al-Khatib Asy-Syarbini (w. 977) dari ulama mazhab Asy-Syafi'iyah dalam kitab Mughni Al-Muhtaj menyebutkan :

لأن التلفظ بالنية والتسمية سنة

Artinya: “Sebab melafadzkan niat dan basmalah hukumnya sunnah. {Al-Khatib Asy-Syarbini, Mughni Al-Muhtaj, jilid 1 hal. 57}

Al-Buhuti (w. 1051) muallif kitab mazhab Al-Hanafiyah, Kasysyaf Al-Qinna' menyebutkan :

)واستحبه) أي التلفظ بالنية (سرا مع القلب كثير من المتأخرين) ليوافق اللسان القلب

Artinya: “Banyak dari ulama mutaakhkhirin memandang istihbab melafadzkan niat dengan lirih dalam hati, agar lisan sejalan dengan hati.” {Al-Buhuti, Kasysyaf Al-Qinna', jilid 1 hal. 87}

Makruh

Mazhab Al-Hanabilah dan Al-Hanafiyah menyebutkan bahwa hukum melafadzkan niat itu makruh.

Ibnu Najim (w. 970 H) yang merupakan ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah di dalam kitab Al-Asybah wa An-Nazhair menyebutkan :

لا يشترط مع نية القلب التلفظ في جميع العبادات

Artinya: “Tidak disyaratkan melafadzkan niat di dalam hati dalam semua bentuk ibadah. {Ibnu Najim, Al-Asybah wa An-Nazhair, hal. 48}

Boleh

Mazhab Al-Malikiyah memandang bahwa hukum melafadzkan niat itu boleh.

Ad-Dardir (w. 1230 H) di dalam kitab Asy-Syarhul Kabir menuliskan sebagai berikut :

)ولفظه) أي تلفظ المصلي بما يفيد النية كأن يقول نويت صلاة فرض الظهر مثلا (واسع) أي جائز بمعنى خلاف الأولى . والأولى أن لا يتلفظ لأن النية محلها القلب ولا مدخل للسان فيها

Artinya: Dan melafadzan niat oleh orang yang shalat seperti nawaitu shalata fardhizh-zhurhi adalah masalah yang luas, yaitu hukumnya boleh walaupun termasuk tidak sejalan dengan utama. Yang utama adalah tidak melafadzkan niat karena tempat niat itu di dalam hati dan tidak ada kaitannya dengan lisan. {Ad-Dardir , Asy-syarhul Kabir, jilid 1 hal. 233-234}


Walhasil seluruh ulama sepakat atas kewajiban niat. Mereka juga sepakat bahwa tempat niat adalah hati. Namun mereka berbeda pendapat tentang hukum melafalkan niat dalam ibadah. Ada yang bilang sunah, ada yang bilang makruh dan ada yang bilang boleh. Wallohu a’lam. 

Comments

  1. Mantap info nya kak keren artikel nya
    Kunjungi juga ya kak Artikel menarik Poker Online Indonesia : http://goo.gl/VUzYVy
    Daftar Poker: http://goo.gl/tg6l4B

    ReplyDelete
  2. 3MPOKER.com Agen Judi Poker Domino QQ Ceme Online Terpercayahttp://url.ac/ar9px
    http://goo.gl/Xe60pk
    http://tinyurl.com/qdb7u4m
    http://ow.ly/RqKGm
    http://mcaf.ee/qdpgc9
    http://tiny.cc/h2bj2x
    http://is.gd/TTe9Mh
    http://goo.gl/sHZ7pU
    http://goo.gl/YJ8vKR
    http://goo.gl/e5VEhj
    http://goo.gl/bZnDV2

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Terjemahan Kitab Aqidatul Awam

Terjemahan Kitab Aqidatul Awam Kitab aqidatul awam   adalah kitab tipis karya Sayyid Ahmad Marzuqi. Kitab yang berjumlah 57 bait ini merupakan konsep aqidah asyariyah.  Secara global kitab ini membahas rukun iman yang jumlahnya ada enam; iman kepada Alloh, Iman kepada malaikat Alloh, Iman kepada kitab Alloh, Iman kepada para Nabi, Iman kepada qodho dan qodar, dan iman kepada hari ahir. Oleh karena itu kitab ini sangat penting kita kaji demi menjaga aqidah kita agar tidak teracuni oleh aqidah sesat yang belakangan ini menjamur di Indonesia. Namun karena kitab Aqidatul Awam menggunakan bahasa arab, maka saya pikir perlu diadakan pengalihan bahasa supaya kandungan kitab ini bisa dipahami oleh mereka yang belum belajar bahasa arab. Berikut Terjemahan Kitab Aqidatul Awam. Muqodimah أَبْـدَأُ بِـاسْمِ اللهِ وَالرَّحْـمَنِ ۩ وَبِالرَّحِـيْـمِ دَائـِمِ اْلإِحْـسَانِ Saya mulai dengan asmanya Allah; yang Pengasih Sayang artinya bismillah. فَالْحَـمْـدُ ِللهِ الْـ...

Melaksanakan Sholat Jum'at Di Jalan Raya, Bagaimana hukumnya?

Persoalan Melaksanakan Sholat Jum'at Di Jalan Raya, saat ini banyak dibicarakan di medsos. Mereka mencoba menjawab pertanyaan Bagaimana hukumnya? Ilustrasi Jawaban Tidak ada yang mensyaratkan sholat jum'at harus di dalam masjid selain madzhab Maliki. Madzhab Syafii yang diikuti oleh mayoritas warga Indonesia, tidak melarang sholat jum'at di luar masjid. Itu artinya, sholat jum'at di jalan raya tetap sah. Berikut ta'bir dalam kitab-kitab madzhab syafii: قال في حاشية الشرواني على تحفة المنهج قول المتن في خطة أبنية...... الخ اي وان لم تكن في مسجد. اھ وقال في مغني المحتاج على المنهاج ص ٤١٧ جز اول في قول المتن( أن تقام في خطة أبنية أوطان المجمّعين) اي وان لم تكن في مسجد. اھ وقال في شرح المحلي على المنهاج ص ٢٧٢ جز اول   في قول المتن ( أن تقام في خطّة أبنية أوطان المجمّعين) لأنها لم تقم في عصر النّبيّ صلى اللّه عليه وسلّم والخلفاء الراشدين إلاّ في مواضع الإقامة كما هو معلوم وهي ما ذكر سواء فيه المسجد والدّار والفضاء ..اھ قال ...

Wahhabi: Antara Bid'ah Tarawih dan Maulid Nabi

Wahhabi: Antara Bid'ah Tarawih dan Maulid Nabi,- Jika anda membaca artikel atau buku yang ditulis ustad atau ulama wahhabi yang membahas masalah perbuatan bid'ah, maka anda akan menemukan alasan yang sama, yakni bahwa perbuatan itu tidak pernah dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW.  Jangan heran kalau para ustad dan ulama wahhabi ketika mengomentari amalan tersebut selalu bilang begini: kalau Rosul mengamalkannya maka saya adalah orang yang pertama melakukannya.   Seperti amalan maulid Nabi. Wahhabi menilainya sebagai perbuatan bid'ah. Sebab tidak ada dalilnya. Saat kita tunjukan dalilnya , yakni puasa hari senin, mereka menolak dalil tersebut. Kata mereka: "Rosululloh memperingati hari kelahirannya dengan puasa. Sedangkan maulid nabi yang kalian lakukan bukan dengan puasa. Jadi keduanya jauh berbeda." Di sini jelas, bahwa suatu amalan bisa diterima serta tidak dikatakan sebagai bid'ah manakala amalan tersebut dilakukan oleh Nabi secara persis. Jika...