Skip to main content

Aqidah Wahhabi Bahwa Alloh Berada Di Langit Ternyata Mengadopsi Hayalan Firaun

Secara tidak sadar Wahhabi telah membeberkan asal usul aqidah mereka yang selama ini dugunakan untuk menyesatkan dan bahkan mengkafirkan Umat Islam yang tidak sejalan dengan aqidah tersebut. Aqidah Wahhabi Bahwa Alloh Berada Di Langit Ternyata Mengadopsi Hayalan Firaun. 

Mereka menukil ayat Al-Quran yang mengkisahkan Firaun dan Haman dimana Firaun menyuruh Haman untuk membuat bangunan yang tinggi. Rencananya Firaun akan melihat Tuhannya Nabi Musa. 

Kisah tersebut terekam dalam surat Al-Ghofir atau yang juga disebut surat Al-Mu'min {40} : 36-37 

Aqidah Wahhabi Bahwa Alloh Berada Di Langit Ternyata Mengadopsi Hayalan Firaun


Artinya: (36) Dan berkatalah Fir'aun: "Hai Haman, buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang tinggi supaya aku sampai ke pintu-pintu, (37) (yaitu) pintu-pintu langit, supaya aku dapat melihat Tuhan Musa dan sesungguhnya aku memandangnya seorang pendusta." Demikianlah dijadikan Fir'aun memandang baik perbuatan yang buruk itu, dan dia dihalangi dari jalan (yang benar); dan tipu daya Fir'aun itu tidak lain hanyalah membawa kerugian". 

Dengan melihat ayat di atas, Wahhabi membuat pertanyaan begini: "Bagaimana Firaun tahu jika Tuhan ada di langit?"

Dari pertanyaan ini, mereka membuat jawaban sendiri bahwa Firaun mengetahuinya dari Nabi Musa. Dus, Mereka mengklaim Aqidah Alloh Berada Di Langit adalah ajaran Nabi Musa. Karena ajaran para Nabi sama, maka selanjutnya mereka mengklaim bahwa Aqidah Alloh Berada Di Langit adalah ajaran para Nabi. 

Tanggapan

Setiap hari saya membaca Quran sebanyak 4-5 Juz. Dalam seminggu saya dapat menghatamkan Quran. Saya tidak tahu berapa kali saya telah menghatamkan Al-Quran, dan saya tidak pernah menemukan satupun ayat yang mengisahkan bahwa Nabi Musa berkata kepada firaun tentang Alloh berada di langit. 

Nabi Musa tidak pernah berkata: "Wahai Firaun, Tuhan ku adalah Alloh yang berada di langit".

Namun jika anda ingin mengetahui bagaimana Nabi Musa mengenalkan Tuhan kepada Firaun, maka saya persilahkan anda untuk membuka surat Thoha. Pada ayat 49, Firaun bertanya kepada Nabi Musa tentang Alloh. 

Nabi Musa menjawab bahwa Tuhan ku adalah Zat yang memberi segala sesuatu kepada mahluknya kemudian memberi petunjuk. 

(قَالَ فَمَنْ رَبُّكُمَا يَا مُوسَى (49) قَالَ رَبُّنَا الَّذِي أَعْطَى كُلَّ شَيْءٍ خَلْقَهُ ثُمَّ هَدَى (50

Artinya: "(49) Berkata Fir'aun: "Maka siapakah Tuhanmu berdua, hai Musa? (50) Musa berkata: "Tuhan kami ialah (Tuhan) yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk".

Dalam surat lain Nabi Musa menjawab bahwa Tuhan adalah yang menciptakan langit, bumi beserta isinya. Asyu'aro : 23-24

(قَالَ فِرْعَوْنُ وَمَا رَبُّ الْعَالَمِينَ (23) قَالَ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا إِنْ كُنْتُمْ مُوقِنِينَ (24

Artinya: 23. Fir'aun bertanya: "Siapa Tuhan semesta alam itu?" 24. Musa menjawab: "Tuhan Pencipta langit dan bumi dan apa-apa yang di antara keduanya (Itulah Tuhanmu), jika kamu sekalian (orang-orang) mempercayai-Nya." 

Pada ayat 26 nabi musa menjawab

قَالَ رَبُّكُمْ وَرَبُّ آبَائِكُمُ الْأَوَّلِينَ

Artinya: Musa berkata (pula): "Tuhan kamu dan Tuhan nenek-nenek moyang kamu yang dahulu." 

Pada ayat 28 nabi musa menjawab

قَالَ رَبُّ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَمَا بَيْنَهُمَا إِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُونَ 

Artinya: Musa berkata: "Tuhan yang menguasai timur dan barat dan apa yang ada di antara keduanya: (Itulah Tuhanmu) jika kamu mempergunakan akal." 

Dengan melihat dialog antara nabi Musa dan Firaun, maka jelas bagaimana nabi Musa memperkenalkan Tuhan kepada Firaun. 

Dan yang pasti Nabi Musa tidak mengatakan Bahwa Alloh Berada Di Langit. Sama sekali tidak. Tetapi Nabi Musa memperkenalkan Alloh sebagai pencipta.

Dus, klaim wahhabi bahwa aqidah Alloh berada di langit adalah ajaran para Nabi telah runtuh. Sebab Nabi Musa tidak pernah mengatakan hal itu. Dan yang benar, Aqidah para Nabi Adalah Tauhid. Mengesakan Tuhan. Bahwa tiada Tuhan Selain Alloh. 

Aqidah Wahhabi Bahwa Alloh Berada Di Langit Ternyata Mengadopsi Hayalan Firaun

Dalam sebuah dialog saat membahas masalah ini, saya bertanya: Apakah ada ayat yang menceritakan Nabi Musa pernah berkata kepada Firaun bahwa Alloh Berada Di Langit???

Ternyata mereka tidak mampu menunjukannya. Justru mereka melakukan hal yang selama ini mereka kecam, yaitu menggunakan akal dalam beragama. 

Yah, mereka tidak mampu menunjukan ayatnya dan malah menunjukan logika mereka untuk mengklaim aqidah Alloh Berada Di Langit adalah ajaran Nabi Musa dan para Nabi. 

Kata mereka: Jika bukan ajaran Nabi Musa, lalu bagaimana mungkin Firaun tahu bahwa Alloh ada di langit sehingga ia menyuruh Haman untuk membuat bangunan yang tinggi???

Untuk menjawab pertanyaan ini saya katakan bahwa Nabi Musa tidak pernah mengatakan bahwa Alloh Berada Di Langit. 

Adapun mengapa firaun menyuruh haman membuat bangunan, itu karena Firaun menduga bahwa Tuhannya Nabi Musa berada di langit. 

Karena itu ia menyuruh Haman untuk membuat bangunan tinggi. Rencananya Firaun akan mencari Tuhan di langit. 

Maka dengan tanpa rasa sungkan dan kikuk lagi saya katakan: "Aqidah Wahhabi Bahwa Alloh Berada Di Langit Ternyata Mengadopsi Hayalan Firaun".

Comments

Popular posts from this blog

Terjemahan Kitab Aqidatul Awam

Terjemahan Kitab Aqidatul Awam Kitab aqidatul awam   adalah kitab tipis karya Sayyid Ahmad Marzuqi. Kitab yang berjumlah 57 bait ini merupakan konsep aqidah asyariyah.  Secara global kitab ini membahas rukun iman yang jumlahnya ada enam; iman kepada Alloh, Iman kepada malaikat Alloh, Iman kepada kitab Alloh, Iman kepada para Nabi, Iman kepada qodho dan qodar, dan iman kepada hari ahir. Oleh karena itu kitab ini sangat penting kita kaji demi menjaga aqidah kita agar tidak teracuni oleh aqidah sesat yang belakangan ini menjamur di Indonesia. Namun karena kitab Aqidatul Awam menggunakan bahasa arab, maka saya pikir perlu diadakan pengalihan bahasa supaya kandungan kitab ini bisa dipahami oleh mereka yang belum belajar bahasa arab. Berikut Terjemahan Kitab Aqidatul Awam. Muqodimah أَبْـدَأُ بِـاسْمِ اللهِ وَالرَّحْـمَنِ ۩ وَبِالرَّحِـيْـمِ دَائـِمِ اْلإِحْـسَانِ Saya mulai dengan asmanya Allah; yang Pengasih Sayang artinya bismillah. فَالْحَـمْـدُ ِللهِ الْـ...

Melaksanakan Sholat Jum'at Di Jalan Raya, Bagaimana hukumnya?

Persoalan Melaksanakan Sholat Jum'at Di Jalan Raya, saat ini banyak dibicarakan di medsos. Mereka mencoba menjawab pertanyaan Bagaimana hukumnya? Ilustrasi Jawaban Tidak ada yang mensyaratkan sholat jum'at harus di dalam masjid selain madzhab Maliki. Madzhab Syafii yang diikuti oleh mayoritas warga Indonesia, tidak melarang sholat jum'at di luar masjid. Itu artinya, sholat jum'at di jalan raya tetap sah. Berikut ta'bir dalam kitab-kitab madzhab syafii: قال في حاشية الشرواني على تحفة المنهج قول المتن في خطة أبنية...... الخ اي وان لم تكن في مسجد. اھ وقال في مغني المحتاج على المنهاج ص ٤١٧ جز اول في قول المتن( أن تقام في خطة أبنية أوطان المجمّعين) اي وان لم تكن في مسجد. اھ وقال في شرح المحلي على المنهاج ص ٢٧٢ جز اول   في قول المتن ( أن تقام في خطّة أبنية أوطان المجمّعين) لأنها لم تقم في عصر النّبيّ صلى اللّه عليه وسلّم والخلفاء الراشدين إلاّ في مواضع الإقامة كما هو معلوم وهي ما ذكر سواء فيه المسجد والدّار والفضاء ..اھ قال ...

Wahhabi: Antara Bid'ah Tarawih dan Maulid Nabi

Wahhabi: Antara Bid'ah Tarawih dan Maulid Nabi,- Jika anda membaca artikel atau buku yang ditulis ustad atau ulama wahhabi yang membahas masalah perbuatan bid'ah, maka anda akan menemukan alasan yang sama, yakni bahwa perbuatan itu tidak pernah dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW.  Jangan heran kalau para ustad dan ulama wahhabi ketika mengomentari amalan tersebut selalu bilang begini: kalau Rosul mengamalkannya maka saya adalah orang yang pertama melakukannya.   Seperti amalan maulid Nabi. Wahhabi menilainya sebagai perbuatan bid'ah. Sebab tidak ada dalilnya. Saat kita tunjukan dalilnya , yakni puasa hari senin, mereka menolak dalil tersebut. Kata mereka: "Rosululloh memperingati hari kelahirannya dengan puasa. Sedangkan maulid nabi yang kalian lakukan bukan dengan puasa. Jadi keduanya jauh berbeda." Di sini jelas, bahwa suatu amalan bisa diterima serta tidak dikatakan sebagai bid'ah manakala amalan tersebut dilakukan oleh Nabi secara persis. Jika...