Skip to main content

Di Manakah Alloh? (2) : Membongkar Kebohongan Wahhabi Atas Nama Imam Malik

Di Manakah Alloh? (2) : Membongkar Kebohongan Wahhabi Atas Nama Imam Malik,- Terkait kebohongan Wahhabi, sebenarnya telah banyak penulis yang telah membongkarnya. Termasuk kebohongan dalam masalah Di manakah Alloh? 

Pada artikel yang lalu kita telah membongkar kebohongan mereka atas nama Imam Abu Hanifah. Dan kali ini kita akan membongkar kebohongan wahhabi atas nama Imam Malik.

Tidak saya ingkari bahwa secara zohir memang ada banyak ayat yang menunjukan bahwa Alloh berada di atas langit; tepatnya di atas arsy. 

Namun jangan lupa, jika kita menggunakan metode ini yakni memahami ayat mutasyabihat secara zohir maka ayat yang menunjukan bahwa Alloh tidak berada di atas arsy juga banyak. Hal ini sebagaimana yang telah saya rangkum dalam artikel Ternyata Alloh Tidak Berada Di Atas Arsy.

Jika kita cermati dengan seksama, ternyata aqidah Alloh berada di atas langit adalah Hayalan Fir'aun. 

Klaim Wahhabi Atas Nama Imam Malik


Tidak hanya saya, mungkin anda juga pernah membaca artikel, atau kitab, atau mendengar cerama ustad wahhabi yang menyatakan bahwa Imam Malik meyakini Alloh berada di atas langit. Konon katanya Imam Malik berkata:

الله في السماء وعلمه في كل مكان لا يخلو منه شيء

Artinya: “Allah berada di atas langit. Sedangkan ilmu-Nya berada di mana-mana, segala sesuatu tidaklah lepas dari ilmu-Nya.”

Riwayat tersebut juga tertera dalam kitab Masailul Imam Ahmad {263} karya Abu Dawud; Siyaru A'lamin Nubla' {8/101} karya Adzdzahabi; As-Sunah {1/173} (213) karya Abdulloh Bin Ahmad Bin Hanbal; At-Tuhfah Al-Madinah {1/34} karya Hamad Bin Nashir Bin Umar, Itsbatu Shifatil 'Uluw {1/115} karya Ibnu Qudamah Al-Muqoddasi dan lain-lain.

Di Manakah Alloh? (2) : Membongkar Kebohongan Wahhabi Atas Nama Imam Malik


Tanggapan Atas Klaim Wahhabi


Hal yang terpenting dalam sebuah riwayat adalah sanad. Kalau kita melihat sanad riwayat tersebut maka kita ketahui bahwa perkataan Imam Malik diriwayatkan oleh Abdulloh Bin Nafi' Ash-Sho'igh (arab: عبد الله بن نافع الصائغ). 

Dan menurut hasil penelitian yang saya lakukan, sumber riwayat seperti ini hanya Abdulloh Bin Nafi'. Itu artinya dia menyendiri dalam riwayat tersebut. 

Siapa Abdulloh Bin Nafi' Ash-Sho'igh?


Abdulloh Bin Nafi' Ash-Sho'igh merupakan salah satu murid Imam Malik (Sualat 1/441). Dia termasuk pembesar ulama Madinah (An-Nubla' 10/371). 

Dalam kitab Mausu'ah Aqwalil Imam Ahmad atau yang dikenal dengan al ilal 2/295 nomor 1453 dipaparkan komentar para ulama sebagai berikut:

قال أبو داود: سمعت أحمد. قال: عبد الله بن نافع الصائغ، لم يكن يحسن الحديث، كان صاحب رأى مالك .
وقال أبو طالب: سألت أحمد بن حنبل، عن عبد الله بن نافع الصائغ؟ فقال: لم يكن صاحب حديث (كان ضيقاً فيه)، كان صاحب رأي مالك، وكان يفتي أهل المدينة برأي مالك، ولم يكن في الحديث بذاك.
وقال الآجري، عن أبي داود: سمعت أحمد يقول: كان عبد الله بن نافع أعلم الناس برأي مالك وحديثه، كان يحفظ حديث مالك كله. ثم دخله بأخره شك

Abu Dawud berkata: saya mendengar Imam Ahmad berkata: "Abdulloh Bin Nafi' Ash-Sho'igh tidak bagus haditsnya." (lihat juga Su'alat 221)

Abu Tholib berkata: saya bertanya kepada Imam Ahmad Bin Hanbal tentang Abdulloh Bin Nafi' Ash-Sho'igh, maka beliau menjawab : dia bukan ahli hadits dan haditsnya sedikit. Dia pemilik pendapat imam Malik. Dia memberi fatwa penduduk Madinah dengan pendapat Imam Malik tetapi dalam hadits tidak seperti itu." (lihat juga: Jarh Wat Ta'dil 5/856)

Al AJiri berkata dari Abu Dawud, saya mendengar Imam Ahmad berkata: Abdulloh Bin Nafi' Ash-Sho'igh adalah orang yang paling mengerti terhadap pendapat Imam Malik dan haditsnya. Dulu ia hafal semua haditsnya Imam Malik kemudian pada ahir hidupnya ada keraguan masuk dalam haditsnya. 

Al-Uqoili dalam memasukan Abdulloh Bin Nafi' Ash-Sho'igh dalam daftar perowi dho'if. Dalam kitab Dhu'afa {3/353} (no. 3141) dia menukil komentar Imam Bukhori sebagai berikut:

حَدثني آدَم بن مُوسَى، قال: سمعتُ البُخاري قال: عَبد الله بن نافِع الصائِغ, أَبو مُحمد المَدَني، عن مالك، تَعرِف وتُنكِر في حِفظِه، وكِتابُه أَصَحُّ

Artinya: "Adam bin musa bercerita kepadaku, dia berkata: saya mendengar Imam Bukhori berkata: Abdulloh Bin Nafi' Ash-Sho'igh, Abu Muhammad Al-Madani dari Imam Malik dikenal namun hafalannya  diingkari dan kitabnya lebih shohih."

Dalam kitab Tahdzibut Tahdzib 6/98 dinukilkan komentar para ulama terkait Abdulloh Bin Nafi' Ash-Sho'igh sebagai berikut:

Imam Bukhori berkata: "ada masalah dalam hafalannya."
Abu Ahmad Al-Hakim berkata: "Menurut ulama dia bukan penghafal hadits (hafiz)."

Abu Zur'ah dalam kitab Su'alat 1/395 mengatakan bahwa Abdulloh Bin Nafi' Ash-Sho'igh adalah perowi dho'if. Hafalannya jelek.

Alauddin dalam Tahdzibul Kamal 16/208 nomor 3609 menjelaskan biografi Abdulloh Bin Nafi' Ash-Sho'igh. Kemudian pada halam 210 dia menukil komentar para ulama terkait Abdulloh bin Nafi', Abu Tholib berkata dari Imam Ahmad Bin Hanbal : "dia bukan ahli hadits."

Komentar para ulama terkait Abdulloh Bin Nafi' Ash-Sho'igh menunjukan bahwa Abdulloh Bin Nafi' Ash-Sho'igh adalah perowi dho'if. Kita tahu bahwa Wahhabi paling anti terhadap riwayat dhoif sekalipun itu terkait fadoil a'mal. Pertanyaannya, apakah kita akan menerima riwayat dho'if untuk masalah aqidah? 

Dengan melihat fakta ini, maka tidak salah sekiranya artikel ini saya beri judul Di Manakah Alloh? (2) : Membongkar Kebohongan Wahhabi Atas Nama Imam Malik. Wallohu a'lam. 

Comments

Popular posts from this blog

Terjemahan Kitab Aqidatul Awam

Terjemahan Kitab Aqidatul Awam Kitab aqidatul awam   adalah kitab tipis karya Sayyid Ahmad Marzuqi. Kitab yang berjumlah 57 bait ini merupakan konsep aqidah asyariyah.  Secara global kitab ini membahas rukun iman yang jumlahnya ada enam; iman kepada Alloh, Iman kepada malaikat Alloh, Iman kepada kitab Alloh, Iman kepada para Nabi, Iman kepada qodho dan qodar, dan iman kepada hari ahir. Oleh karena itu kitab ini sangat penting kita kaji demi menjaga aqidah kita agar tidak teracuni oleh aqidah sesat yang belakangan ini menjamur di Indonesia. Namun karena kitab Aqidatul Awam menggunakan bahasa arab, maka saya pikir perlu diadakan pengalihan bahasa supaya kandungan kitab ini bisa dipahami oleh mereka yang belum belajar bahasa arab. Berikut Terjemahan Kitab Aqidatul Awam. Muqodimah أَبْـدَأُ بِـاسْمِ اللهِ وَالرَّحْـمَنِ ۩ وَبِالرَّحِـيْـمِ دَائـِمِ اْلإِحْـسَانِ Saya mulai dengan asmanya Allah; yang Pengasih Sayang artinya bismillah. فَالْحَـمْـدُ ِللهِ الْـ...

Melaksanakan Sholat Jum'at Di Jalan Raya, Bagaimana hukumnya?

Persoalan Melaksanakan Sholat Jum'at Di Jalan Raya, saat ini banyak dibicarakan di medsos. Mereka mencoba menjawab pertanyaan Bagaimana hukumnya? Ilustrasi Jawaban Tidak ada yang mensyaratkan sholat jum'at harus di dalam masjid selain madzhab Maliki. Madzhab Syafii yang diikuti oleh mayoritas warga Indonesia, tidak melarang sholat jum'at di luar masjid. Itu artinya, sholat jum'at di jalan raya tetap sah. Berikut ta'bir dalam kitab-kitab madzhab syafii: قال في حاشية الشرواني على تحفة المنهج قول المتن في خطة أبنية...... الخ اي وان لم تكن في مسجد. اھ وقال في مغني المحتاج على المنهاج ص ٤١٧ جز اول في قول المتن( أن تقام في خطة أبنية أوطان المجمّعين) اي وان لم تكن في مسجد. اھ وقال في شرح المحلي على المنهاج ص ٢٧٢ جز اول   في قول المتن ( أن تقام في خطّة أبنية أوطان المجمّعين) لأنها لم تقم في عصر النّبيّ صلى اللّه عليه وسلّم والخلفاء الراشدين إلاّ في مواضع الإقامة كما هو معلوم وهي ما ذكر سواء فيه المسجد والدّار والفضاء ..اھ قال ...

Wahhabi: Antara Bid'ah Tarawih dan Maulid Nabi

Wahhabi: Antara Bid'ah Tarawih dan Maulid Nabi,- Jika anda membaca artikel atau buku yang ditulis ustad atau ulama wahhabi yang membahas masalah perbuatan bid'ah, maka anda akan menemukan alasan yang sama, yakni bahwa perbuatan itu tidak pernah dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW.  Jangan heran kalau para ustad dan ulama wahhabi ketika mengomentari amalan tersebut selalu bilang begini: kalau Rosul mengamalkannya maka saya adalah orang yang pertama melakukannya.   Seperti amalan maulid Nabi. Wahhabi menilainya sebagai perbuatan bid'ah. Sebab tidak ada dalilnya. Saat kita tunjukan dalilnya , yakni puasa hari senin, mereka menolak dalil tersebut. Kata mereka: "Rosululloh memperingati hari kelahirannya dengan puasa. Sedangkan maulid nabi yang kalian lakukan bukan dengan puasa. Jadi keduanya jauh berbeda." Di sini jelas, bahwa suatu amalan bisa diterima serta tidak dikatakan sebagai bid'ah manakala amalan tersebut dilakukan oleh Nabi secara persis. Jika...