Skip to main content

Maulid Nabi Muhammad SAW

Pada tanggal 8 januari 2014, muslim.or.id merilis artikel tentang maulid dengan judul Mana Dalil yang Menyatakan Perayaan Maulid Haram?. Pada paragraf pertama penulis berkata:


Salah satu keanehan dari para pro maulid, mereka Menanyakan mana dalil yang mengharamkan maulid secara khusus. Padahal seharusnya yang ditanyakan adalah mana dalil yang memerintahkan untuk merayakan maulid atau mengekspresikan cinta Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- dengan maulid?

Karena kaedahnya tentu berbeda antara masalah ibadah dan masalah muamalah atau adat (non-ibadah). Kalau dalam masalah ibadah, hukum asalnya adalah haram sampai ada dalil yang memerintahkan. Untuk masalah muamalat atau adat, berlaku hukum sebaliknya. Hukum asal dalam perkara non-ibadah adalah boleh sampai ada dalil yang melarang.

Ada tiga point yang akan saya bahas dalam artikel ini; mengenai pertanyaan mana dalil husus yang mengaharamkan maulid; mengenai dalil maulid nabi dan mengenai dalil maulid nabi, dan mengenai kaidah ibadah dan adat.

Point pertama, Wahhabi berkata: Salah satu keanehan dari para pro maulid, mereka Menanyakan mana dalil yang mengharamkan maulid secara khusus.

Tanggapan:

Sebenarnya pertanyaan seperti itu tidaklah aneh. Pertanyaan itu merupakan konskwensi logis atas pernyatan wahabi yang sering menggunakan surat al-maidah ; 3 untuk mengharamkan maulid Nabi.

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

Artinya: “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.”

Dalam hayalan wahhabi, melakukan suatu amalan tanpa dalil husus berati telah menambahi ajaran agama sehingga mereka berkata: “Agama islam telah sempurnah. Tidak perlu ditambahi maulid nabi. Mereka yang mendukung maulid nabi sama saja menganggap islam tidak sempurna. Ini bertentangan dengan surat al-maidah ; 3.”

Demi menanggapi hayalan tersebut maka lahirlah pertanyaan, mana dalil yang mengharamkan maulid secara khusus. Mengapa? Sebab menurut penjelasan sebagian ahli tafsir, yang dimaksud sempurna dalam ayat di atas adalah bahwasannya hukum halal dan haram sudah jelas.

Imam Suyuthi dalam tafsir Jalalain berkata:

}اليوم أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ } أحكامه وفرائضه فلم ينزل بعدها حلال ولا حرام

Artinya: {Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu} yaitu hukum dan kefarduannya. Maka setelah ayat ini tidak ada lagi ayat yang turun mengenai halal dan haram.

Ibn Katsir dalam tafsirnya berkata:

وقوله: { الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإسْلامَ دِينًا } هذه أكبر نعم الله ، عز وجل، على هذه الأمة حيث أكمل تعالى لهم دينهم ، فلا يحتاجون إلى دين غيره، ولا إلى نبي غير نبيهم، صلوات الله وسلامه عليه؛ ولهذا جعله الله خاتم الأنبياء، وبعثه إلى الإنس والجن، فلا حلال إلا ما أحله، ولا حرام إلا ما حرمه

Perhatikan kalimat:
فلا حلال إلا ما أحله، ولا حرام إلا ما حرمه

Artinya: Maka tidak ada kehalalan selain apa yang dihalalkan oleh Alloh dan tidak ada keharam selain apa yang diharamkan oleh Alloh.

Imam Baghowi dalam tafsirnya 3/13 berkata:

قوله عز وجل: { الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ } يعني: يوم نزول هذه الآية أكملت لكم دينكم، يعني الفرائض والسنن والحدود والجهاد والأحكام والحلال والحرام، فلم ينزل بعد هذه الآية حلال ولا حرام، ولا شيء من الفرائض

Perhatikan kalimat:
فلم ينزل بعد هذه الآية حلال ولا حرام

Artinya: “Maka setelah ayat ini tidak ada ayat tentang halal dan haram.”

Kesimpulannya, al-maidah : 3 menjelaskan kesempurnaan islam terkait hukum halal dan haram. Islam telah menjelaskan semua hal yang halal dan yang haram.

Jika wahhabi menuduh para pendukung maulid nabi menganggap islam tidak sempurna karena tidak bisa menunjukan dalil husus dari al-quran dan hadits yang memerintah maulid nabi, maka konsekwensinya adalah wahhabi juga menganggap islam tidak sempurna sebab mereka tidak mampu menunjukan dalil husus yang mengharamkan maulid nabi.

Maka pertanyaan mana dalil yang mengharamkan maulid Nabi secara khususbukan pertanyaan yang aneh. Justru pertanyaan ini harus diajukan kepada mereka yang mengharamkan sesuatu. Sebab hukum halal dan haram telah dijelaskan oleh islam.

Point ke-dua, Wahhabi berkata : “Padahal seharusnya yang ditanyakan adalah mana dalil yang memerintahkan untuk merayakan maulid atau mengekspresikan cinta Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- dengan mauled.”

Tanggapan: Dalil sudah kami berikan. Salah satunya bisa anda baca dalam artikel saya berjudul Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Tapi kalian tidak mau menerimanya dan malah menfitnah kami tidak memiliki dalil. Jadi salah siapa?

Point ke-tiga, wahhabi berkata: Kalau dalam masalah ibadah, hukum asalnya adalah haram sampai ada dalil yang memerintahkan. Untuk masalah muamalat atau adat, berlaku hukum sebaliknya. Hukum asal dalam perkara non-ibadah adalah boleh sampai ada dalil yang melarang.

Tanggapan: di sinilah letak kesalahan anda dalam menilai maulid nabi. Anda menilainya dengan menggunakan hayalan anda sendiri. Anda berhayal bahwa maulid nabi adalah ibadah. Padahal Maulid nabi yang kami lakukan bukan ibadah melainkan adat.

Sayyid Muhammad Bin Alawi al-maliki dalam Mafahim hlm. 242 berkata:

إن الاجتماع لأجل المولد النبوي الشريف ما هو إلا أمر عادي وليس من العبادة في شيء وهذا ما نعتقده

Artinya: Sesungguhnya berkumpul untuk memperingati maulid nabi yang mulia adalah perkara adat dan sama sekali tidak termasuk ibadah. Ini adalah keyakinan kami tentang maulid.

Namun wahhabi berhayal bahwa maulid nabi adalah termasuk ibadah. Jadi salah siapa?

Maulid Nabi adalah adat (kebiasaan) yang diisi dengan berbagai kegiatan yang diperintahkan oleh agama seperti membaca sebagian ayat suci al-quran, membaca sholawat, pengajian, sedekah, menyantuni anak yatim dan jompo.

Jadi maulid nabi hanya merupakan salah satu wasilah untuk melaksanakan perintah agama. Wahhabi tau sendiri bagaimana hukum wasilah untuk melaksanakan perintah agama.

Barangkali ada wahhabi yang berkata, maulid nabi adalah bid’ah yang dibuat oleh dinasti fatimiyyun. Jadi kita tidak boleh mengikuti mereka. Sebab mereka sesat.


Tanggapan saya bisa anda baca dalam artikel berjudul Sejarah Kelam Maulid Nabi Muhammad SAW.

Comments

Popular posts from this blog

Terjemahan Kitab Aqidatul Awam

Terjemahan Kitab Aqidatul Awam Kitab aqidatul awam   adalah kitab tipis karya Sayyid Ahmad Marzuqi. Kitab yang berjumlah 57 bait ini merupakan konsep aqidah asyariyah.  Secara global kitab ini membahas rukun iman yang jumlahnya ada enam; iman kepada Alloh, Iman kepada malaikat Alloh, Iman kepada kitab Alloh, Iman kepada para Nabi, Iman kepada qodho dan qodar, dan iman kepada hari ahir. Oleh karena itu kitab ini sangat penting kita kaji demi menjaga aqidah kita agar tidak teracuni oleh aqidah sesat yang belakangan ini menjamur di Indonesia. Namun karena kitab Aqidatul Awam menggunakan bahasa arab, maka saya pikir perlu diadakan pengalihan bahasa supaya kandungan kitab ini bisa dipahami oleh mereka yang belum belajar bahasa arab. Berikut Terjemahan Kitab Aqidatul Awam. Muqodimah أَبْـدَأُ بِـاسْمِ اللهِ وَالرَّحْـمَنِ ۩ وَبِالرَّحِـيْـمِ دَائـِمِ اْلإِحْـسَانِ Saya mulai dengan asmanya Allah; yang Pengasih Sayang artinya bismillah. فَالْحَـمْـدُ ِللهِ الْـ...

Melaksanakan Sholat Jum'at Di Jalan Raya, Bagaimana hukumnya?

Persoalan Melaksanakan Sholat Jum'at Di Jalan Raya, saat ini banyak dibicarakan di medsos. Mereka mencoba menjawab pertanyaan Bagaimana hukumnya? Ilustrasi Jawaban Tidak ada yang mensyaratkan sholat jum'at harus di dalam masjid selain madzhab Maliki. Madzhab Syafii yang diikuti oleh mayoritas warga Indonesia, tidak melarang sholat jum'at di luar masjid. Itu artinya, sholat jum'at di jalan raya tetap sah. Berikut ta'bir dalam kitab-kitab madzhab syafii: قال في حاشية الشرواني على تحفة المنهج قول المتن في خطة أبنية...... الخ اي وان لم تكن في مسجد. اھ وقال في مغني المحتاج على المنهاج ص ٤١٧ جز اول في قول المتن( أن تقام في خطة أبنية أوطان المجمّعين) اي وان لم تكن في مسجد. اھ وقال في شرح المحلي على المنهاج ص ٢٧٢ جز اول   في قول المتن ( أن تقام في خطّة أبنية أوطان المجمّعين) لأنها لم تقم في عصر النّبيّ صلى اللّه عليه وسلّم والخلفاء الراشدين إلاّ في مواضع الإقامة كما هو معلوم وهي ما ذكر سواء فيه المسجد والدّار والفضاء ..اھ قال ...

Wahhabi: Antara Bid'ah Tarawih dan Maulid Nabi

Wahhabi: Antara Bid'ah Tarawih dan Maulid Nabi,- Jika anda membaca artikel atau buku yang ditulis ustad atau ulama wahhabi yang membahas masalah perbuatan bid'ah, maka anda akan menemukan alasan yang sama, yakni bahwa perbuatan itu tidak pernah dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW.  Jangan heran kalau para ustad dan ulama wahhabi ketika mengomentari amalan tersebut selalu bilang begini: kalau Rosul mengamalkannya maka saya adalah orang yang pertama melakukannya.   Seperti amalan maulid Nabi. Wahhabi menilainya sebagai perbuatan bid'ah. Sebab tidak ada dalilnya. Saat kita tunjukan dalilnya , yakni puasa hari senin, mereka menolak dalil tersebut. Kata mereka: "Rosululloh memperingati hari kelahirannya dengan puasa. Sedangkan maulid nabi yang kalian lakukan bukan dengan puasa. Jadi keduanya jauh berbeda." Di sini jelas, bahwa suatu amalan bisa diterima serta tidak dikatakan sebagai bid'ah manakala amalan tersebut dilakukan oleh Nabi secara persis. Jika...